Secara tegas dan
berulang-ulang Alquran menjelaskan kepada manusia tentang proses penciptaannya
dari awal hingga akhir. Kemudian Alquran menjelaskan tentang kewajiban yang
harus dilakukan manusia kepada orangtua. Bahkan tidak cukup sampai disitu,
Alquran juga memberikan penjelasan tentang apa yang akan dialami manusia
sesudah kehidupan duniawi, yang karenanya Alquran terus-menerus menyampaikan
informasi kepada manusia untuk memanfaatkan waktu kehidupannya di dunia ini
dengan baik.
Salah satu
ayat Alquran yang menjelaskan tentang hal tersebut adalah QS. Al-Ahqaf (46)
Ayat 15. Allah SWT berfirman: “Kami perintahkan kepada manusia supaya
berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah
payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai
menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan
umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, bantulah aku
untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada orangtuaku
dan supaya aku dapat berbuat amal yang salih yang Engkau ridhai; salihkanlah
aku demikian pula anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Bila diperhatikan secara seksama
ayat di atas selain menjelaskan tentang kewajiban manusia untuk birrul
walidain (berbuat baik kepada orangtua) yang telah menjadi jalan kehadiran manusia
di muka bumi ini, ayat tersebut juga menjelaskan tentang periodesasi umur
manusia, ayat tersebut dengan spesifik menyebut umur manusia, yaitu umur 40
(empat puluh) tahun. Umur 40
(empat puluh) tahun bagi manusia sebagaimana yang disebutkan Alquran, bila
dikaitkan dengan penjelasan Rasulullah Saw. bahwa umur umatnya antara 60 (enam
puluh) tahun sampai dengan 70 (tujuh puluh) tahun, memberikan makna yang cukup
mendalam. Manakala secara rata-rata umur manusia itu adalah 60 (enam puluh)
tahun, maka umur 40 (empat puluh) tahun berarti dua pertiga dari umur manusia
itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa saat manusia berumur 40 (empat puluh)
tahun, ia sedang disadarkan bahwa kehidupannya tinggal sepertiga lagi. Lebih dahsyatnya lagi, setelah Allah SWT
mengingatkan manusia tentang umurnya, Allah SWT juga mengajarkan doa, yang baik
sekali untuk terus dimunajatkan-Nya dan sekaligus berisi bimbingan Allah SWT
kepada semua manusia untuk mengoptimalkan umurnya yang masih tersisa.
Setidaknya
ada lima bimbingan Allah SWT yang disampaikan kepada manusia melalui QS.
Al-Ahqaf (46) ayat 15 tersebut untuk mengoptimalkan sisa umurnya. Pertama,
mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT. Tidak sedikit manusia yang lalai untuk
mensyukuri nikmat Allah SWT bahkan sampai dirinya akan kembali kepada Allah
SWT. Padahal sejak awal penciptaan manusia Allah SWT terus menerus memberikan
nikmat silih berganti, bahkan terus bertambah seiring dengan pertumbuhan dan
perkembangan kehidupan manusia itu sendiri. Sejenak agaknya kita perlu kilas
balik pada fase-fase kehidupan kita sebelumnya. Pada tahap yang paling awal,
saat manusia berada di dalam rahim ibunya, Allah SWT menganugerahkan nikmat
kepada manusia lewat satu sumber saja, plasenta ibu. Kemudian saat dilahirkan manusia
mendapatkan ‘tambahan’ nikmat yang tidak berasal dari satu sumber tapi sudah
dua sumber, yaitu air susu ibu. Begitulah seterusnya sampai dengan saat ini.
Pantas saja dalam Alquran Surat Ar-Rahman (55), Allah SWT mengulang sebanyak 31
(tiga puluh satu) kali, menanyakan kepada manusia dan jin, “Fa bi-ayyi ala-i
robbikuma tukadzi-dziban” (Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu
dustakan?). Ayat ini sebagai pertanda bahwa Allah SWT sudah begitu banyak
memberikan nikmatnya kepada manusia dan manusia tidak akan pernah mampu
mengingkarinya. Karena itu, tidak ada jalan lain buat manusia melainkan terus
bersyukur atas nikmat Allah SWT pada saat sepertiga lagi sisa umur kita, sebab
hanya dengan bersyukur nikmat Allah SWT akan ditambah baik secara kuantitas
maupun kualitas. (QS. Ibrahim, 14:7).
Kedua, melakukan percepatan
(akselerasi) dalam melakukan amal salih yang diridhoi Allah SWT. Amal salih
sesuai dengan asal katanya dimaknai dengan perbuatan yang memiliki manfaat.
Manfaat yang sebanyak-banyaknya. Dalam hadis Rasulullah Saw. mengatakan
“Khoirunnas anfa’uhum linnas” bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang
paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Manusia seperti inilah sesungguhnya
manusia yang terus melakukan amal salih. Karena itu di sisa sepertiga umurnya
saat ini, manusia seharusnya tidak ada lagi kemalasan dan penundaan untuk
melakukan amal salih, sekecil apapun amal salih itu. Prinsip ini tidak akan
membuat manusia pilah pilih dalam melakukan amal salih, selama semua amal salih
itu memiliki dasar normatif yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan prinsip
ini pada akhirnya akan melahirkan pribadi yang penuh semangat dengan
menyibukkan dirinya untuk terus melakukan perbaikan dan peningkatan kebaikan,
meskipun perbuatan itu adalah perbuatan sunnah. Sebab baginya sunnah adalah
perbuatan yang bila ditinggalkan akan merugi.
Ketiga, berikhtiar men-salih-kan
diri sendiri dan anak-anak serta keturunan. Merujuk QS. Al-Ahqaf (46) Ayat 15
di atas, penggunaan kata ‘umur 40 (empat puluh) tahun’ dalam ayat tersebut
mengisyaratkan bahwa manusia pada umur itu sudah matang secara biologis,
psikologis, dan sosial-ekonomi, karenanya pada fase tersebut manusia secara
rata-rata sudah memiliki pasangan hidup dan keturunan. Dalam Islam, pasangan
hidup dan anak keturunan harus mampu menjadi permata hati “qurrota a’yun”
sehingga makin besar peluang bagi keluarga secara kolektif menjadi pemimpin (imam)
bagi orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan, 25:74).
Khususnya
anak, bagi orangtua ia adalah tempat menumpahkan harapan dan keinginan. Salah
satu harapan dan keinginan terbesar orangtua kepada anak-anaknya adalah agar
mereka menjadi anak yang salih. Akan tetapi harus diingat bahwa harapan
orangtua agar anak-anak mereka menjadi salih akan sulit terwujud manakala anak
dibiarkan tumbuh berkembang tanpa ada didikan keteladanan. Dengan kata lain,
kesalihan anak akan terwujud manakala anak melihat kesalihan yang ditampilkan
lebih dulu oleh orangtuanya. Intinya adalah keteladanan (uswah hasanah).
Kemudian daripada itu, dikarenakan mendidik anak untuk menjadi salih
membutuhkan proses yang tidak singkat, maka orangtua harus mengisi penuh
hatinya dengan kesabaran sebagaimana telah dijelaskan Alquran “Dan
perintahkanlah kepada keluargamu (isteri, suami, anak dan sebagainya) untuk
salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya!” (QS. Thoha, 20: 132). Berbicara
tentang kesabaran tentu ia tidak berbatas, bilapun berbatas maka batasnya akan
kematian.
Keempat, pesan Alquran untuk
mengoptimalkan sepertiga sisa umur manusia adalah melakukan taubat kepada Allah
SWT. Pesan keempat dari QS. Al-Ahqaf (46) Ayat 15 ini menggugah kesadaran
manusia bahwa jika manusia jujur kemudian mencoba membandingkan antara kebaikan
dengan keburukan yang telah dilakukannya dalam dua pertiga kehidupannya yang telah
dilaluinya, ia pasti akan mendapati bahwa keburukannya jauh lebih banyak dan
lebih besar daripada kebaikannya. Kesadaran ini akan membuat manusia untuk
terus melakukan taubat kepada Allah SWT. Manusia akan sibuk mengingat dosa dan
kesalahannya daripada sibuk mengingat kebaikannya sendiri apatahlagi mengingat
dan menghitung dosa serta kesalahan orang lain. Bila manusia mampu melakukan
ini secara istiqomah bahkan saat umurnya tersisa sepertiga lagi, maka ia akan
menjadi orang yang dicintai Allah SWT karena telah menjadi bagian dari kelompok
orang yang selalu bertaubat “at-Tawwabun” (QS. Al-Baqarah, 2: 222).
Pesan kelima yang disampaikan QS.
Al-Ahqaf (46) Ayat 15 adalah hendaknya di sisa sepertiga kehidupan manusia, ia
harus mampu menjaga diri agar tidak terjebak ke dalam perbuatan yang akan
menghancurkan keislaman dan keimanannya. Di saat detik kehidupan manusia akan
berakhir, sejatinya ia harus mampu tampil sebagai seorang Muslim yang total “kaffah”
(QS. Al-Baqarah, 2:108) bukan menjadi Muslim yang ‘setengah-setengah’ atau
Muslim ‘musiman’. Yakni Muslim yang menampilkan ke-Islamannya hanya menurut mau
dan seleranya semata serta berdasarkan momen tertentu saja. Hal ini penting
dikarenakan manusia tidak pernah tahu kapan, dimana dan dengan sebab apa
kehidupannya akan berakhir. Alangkah menyedihkan bila kematian seseorang datang,
sementara pada saat tersebut ia tidak lagi menjadi Muslim kaffah tentu
sudah dapat dibayangkan keadaan yang akan dirasakan pada fase kehidupan
berikutnya. Padahal Alquran mengingatkan agar manusia yang beriman untuk
bertakwa kepada Allah SWT dengan takwa dengan sebenarnya dan berusaha agar
tidak wafat melainkan dalam keadaan Islam. Islam yang sempurna (QS. Alu Imran,
3: 102).
Akhirnya
dapat ditegaskan bahwa pesan QS. Al-Ahqaf (46) Ayat 15 sangat penting untuk
terus diulang, diperhatikan dan ditebarkan. Tentu saja manakala manusia
menginginkan kebahagiaan (al-falah) dan kebaikan (al-hasanah) di
dunia dan akhirat. Bila tidak. Wallahu a’lam.